Pernah denger tentang sahabat kecil ? mungkin di skenario sinetron atau perfilman layar lebar, 'sahabat kecil' sering banget menjadi tema ga asing yang diusung. Biasanya berkisah sekitar sahabat kecil yang berpisah gara-gara yang satu pindah rumahlah, yang satu mesti sekolah di luar negeri lah,atau apalah, pokoknya ujung-ujungnya ketemu lagi sama si sahabat kecil. So pasti pertemuannya bakal berkesan banget secara yang namanya 'sahabat kecil' ga ada gantinya mau dicari kemanapun. Ending film dengan tema semacam itu biasanya mengharu biru dan diakiri dengan adegan pelukan sambil saling ngapus air mata dipipi sahabat *eh, ketahuan banget saya pecinta sinetron* :)
Nah, yang namanya 'sahabat kecil' nggak hanya ada di dunia persinetronan atau layar lebar dong. Pasti kita semua punyalah yang namanya kawan masa cilik. Entah itu cowok apa cewek. Di usia saya yang sudah menginjak seperlima abad ini, kalau mendengar kata 'sahabat kecil' , langsung ter-replay rekaman jaman saya masih duduk di bangku SD. Lima orang calon 'cewek' yang masih imut-imut yang selalu kompak kemana-mana barengan. Lompat tali, bola bekel, orang-orangan kertas, petak umpet, kejar-kejaran, gobag sodhor. itu dunia intan kecil bersama mereka. Ya, diantara 16 orang isi kelas saya di bangku kelas SD , cuma 5 orang yang berjenis kelamin perempuan, sudah termasuk aku. Untung saja di jaman saya SD, belum ngetrend anak SD maen taksir-taksiran lawan jenis. Tidak seperti jaman Crop Circle sekarang ini, anak SD kemana-mana sudah mengantongi HP buat sekadar sms pacarnya. Kalau saja jaman saya sudah marak namanya pacar-pacaran bau kencur, kasihan dong ya teman-teman lelaki di SD saya itu.Pilihannya cuma 5 orang doang gitu hhe.
Mungkin karena sebangku, diantara lima orang itu aku paling dekat dengan Rina. Intan kecil sangat lemah, pemalu, penakut dan cenderung selalu menjadi bawang kosong di setiap permainan yang mengandalkan fisik. Ya, badanku amat sangat mini sekali saat itu. Entah kenapa, rasanya seperti dialah yang paling sering melindungi dan membelaku saat itu.
Rina kecil cenderung energik dan periang. Ketika hari bebas yang memperbolehkan seluruh siswa menggunakan baju non-seragam, dia selalu tampil kece. Rok dengan warna-warna cantik selalu membalut tubuh mungilnya, ya tapi setidaknya dia lebih tinggi dari aku. Perhiasan-perhiasan seperti kalung manik-manik atau gelang mutiara-mutiaraan tak luput dikenakannya. Antingnya yang sedikit panjang bermata batuan permata membuat setiap orang gemas melihat wajah manisnya. Ketika waktu itu aku belum mengenal apa yang namanya bedak,lipstik dan kawan-kawannya, tampaknya dia sudah sedikit akrab dengan semua itu. Ya, waktu itu aku suka iri jika melihat kepiawaiannya dalam berdandan. Sahabat kecilku itu tampak selalu cantik dan manis. Bahkan kata kakakku, dia mirip sosok anak perempuan dari Rahul di film kuch-kuch hota he *ngekkk.. jaman aku SD kan bollywood lagi eksis*
Sebenarnya Rina ini teman satu perguruan juga ketika kami TK. Hanya saja, waktu TK kami belum kenal lebih intim. Baru sebatas kenal nama dan senyum sapa. Dan pada akhirnya entah darimana awal mulanya, Tuhan menjodohkan kami sebangku di meja, yang selalu paling depan ,di Sekolah Dasar kami. Lama-kelamaan kami menjadi semakin dekat. Apalagi, jarak rumah kami yang hanya terpisah oleh beberapa bangunan menjadikan kami sering bermain bersama seusai pulang sekolah. Bahkan waktu jamannya masih kelas 1 sampai 4 SD , ibuku sering menitipkanku dirumah Rina jika beliau berhalangan menjemputku karena suatu acara. Keluarga kami sudah saling kenal baik. Keluarga Rina, ayah ibu dan 2 adiknya, tinggal di Semarang. Sejak bayi, dia sudah diajarkan hidup jauh dari orangtua.Tinggal bersama kakek neneknya dan budhenya di jogja. Hmm, dibalik keirian hati saya akan sifat cerianya, kadang terbesit pula rasa kagum. Bagaimana tidak, Gadis seusia 6 tahun seperti Rina sudah bisa hidup mandiri.
Aih, saya ingin bercerita salah satu kejadian lucu tentang kami. Pernah suatu ketika ibu saya berhalangan menjemput pulang sekolah gara-gara harus melayat ke tetangga. Seperti biasa, saya dititipkan ke keluarga Rina. Siang itu, kami dijemput oleh Budhe Rina dengan mengendarai sepeda onthelnya. Ya, jarak rumah dengan sekolah sebenarnya cuma dekat, hanya saja kalau ditempuh jalan kaki dibawah sempurnanya lingkaran matahari tentu saja bakal menguras banyak tenaga. Untung saja badan kami sama-sama kecil. Kamipun duduk berdua di sadel belakang. Rina ditengah,aku di belakang. Budhenya dengan tekun mengayuh sepeda tapak demi tapak. Awalnya tak ada aral melintang. Tiba-tiba, kok ngerasa posisi duduk saya makin ke belakang makin ke belakang ya. Ah, rumah Rina sebentar lagi sampai, pikir Intan kecil. Bermodalkan pegangan yang kuat sajalah. Sroootttt... tak diduga pegangan tangan mungilku lepas dan saya jatuh dengan pendaratan yang sangat sempurna, berdiri tegak tanpa jatuh tersungkur. Saking mulusnya pendaratan saya itu sampai-sampai Rina maupun Budhenya ga menyadarinya sama sekali. Bodohnya, saya pun tak langsung teriak. Setelah mereka beberapa meter melaju meninggalkan saya, saya baru teriak memanggil mereka. Ah, konyol sekali ya waktu itu hhhehe.
Persahabatn Rina kecil dan Intan kecil memang tak sebatas bangku di kelas saja. Sedikit bocoran, kami sering belajar kelompok berdua. Kami menyusun berdua jadwal belajar kelompok kami. Seminggu 3 kali. Terkadang dirumahku, terkadang dirumahnya.Lucunya, kami tak hanya belajar kelompok tentang mata pelajaran yang kami dapat di sekolah. tapi juga ada mata pelajaran 'memasak' yang tertera di jadwal kami. Tahukah kalian apa yang kami hasilkan? yang paling bermutu sih kami masak perkedel tahu yang rasanya ga kalah lho sama yang dijual dipasar, tapi yang paling ga bermutu kami masak pisang goreng. Pisang goreng spesial yang dimasak tanpa tepung dengan tutup kaleng roti bekas sebagai penggorengannya. Bukan rasa pisang yang gurih, tapi rasa minyak yang minyakkkk banget yang didapat. Sampai aku mau muntah dibuatnya, herannya si Rina rela memakan hasil kerja keras kami itu dengan lahapnya ^^
Ga cuma itu saja kekonyolan kami sewaktu di bangku SD. Mungkin kalo jaman sekarang, anak SD sudah diracunin keong racun dari you tube. Kalau aku dan Rina dulu benar-benar teracuni oleh keong sawah. Kami pernah loh melihara keong emas beneran yang kami tangkap di kolam ikan, ditaruh ember, dikasih makan, sampai beranak pinak.Bangga banget kalau embernya dipenuhi telur keong. Aku masih ingat betul si Rina sampai pernah kecebur selokan disamping rumahnya demi mencari keong-keong itu. Bukannya diselametin sama neneknya, eh dia malah sekalian disuruh bersihin selokan itu dari sampah. Gokil banget.
Persahabatan kami ga berhenti sampai di bangku SD. Tuhan kembali menjodohkan kami di bangku SMP. Kelas yang sama, bangku yang sama. Kami sudah menginjak usia puber. Menginjak usia labil. Cerita hidup tidak lagi hanya seputar persaingan nilai atau rangking kelas semata. Kami sudah mulai mengenal apa yang disebut cinta monyet. Kalau jaman SMP, mungkin aku menyebutnya cinta sejati mungkin ya. Tapi setelah sekarang seperlima abad, ah saya hanya bisa tertawa mengingat betapa menjijikannya Intan kecil yang naksir seseorang. Mau dibawa kemana coba kalau pacaran usia segitu. beruntung saya hanya berani memendam rasa, tak sampai mengganggu nilai sekolah. Aku pun tahu meskipun dia sangat tertutup dan tak pernah mau berbagi tentang hal macam ini, Rina pasti waktu itu juga suka seseorang. Dari mata kecilnya terpancar suasana jatuh cinta monyet ^^
Bertahun-tahun aku duduk sebangku dengganya, aku semakin kenal sosok Rina. Tidak hanya cita-cita mulianya yang ingin jadi guru yang kutahu, bahkan jalan hidupnya hingga metamorfose dia aku sudah cukup hapal. Tak perlu ia cerita, aku hapal dengan sendirinya. Dia sudah lebih tinggi besar, tapi dia sudah tak begitu peduli penampilan. Dia tak lagi suka dandan seperti dulu. Bahkan dia menjadi benci memakai segala sesuatu dengan warna menohok mata. Satu-satunya make up yang dia kenakan hanya hand body lotion. Sederhana sekali penampilannya. Di balik kesederhanaanya itu, satu hal yang mulai aku sadari tentangnya. Kecantikan batin. Ga berlebihan aku katakan demikian, aku baru kali itu menemukan orang sebaik dia. Sumpah,dia sabar banget, sama sekali ga pernah meminta pamrih kalau membantu orang. Ketika aku terlalu asik dengan dunia baruku, sibuk bercanda dengan teman baru tanpa memperdulikan dia, bahkan sampai berpisah bangku dengan dia, dia sama sekali tak marah. Senyumnya dan perhatiannya masih selalu untukku. Ketika kartu ujianku ketinggalan dirumah, dia rela menemaniku mengambilnya padahal dia terancam ikut telat ujian. Oh ya, kami masih setia selalu belajar kelompok bareng loh. Saat kelas 3 kami juga ikutan bimbel bareng di salah satu lembaga bimbangan belajar. Berangkat bareng, dan seperti biasa, selalu sebangku. hhehe.
Akirnya, seragam putih biru kami harus ditanggalkan, berganti seragam putih abu-abu. Sekarang sudah bukan tentang Intan kecil dan Rina kecil lagi. Kami sudah menginjak masa remaja, bukan gadis cilik lagi. Untuk pertama kalinya, kami tidak satu bangku lagi, bahkan tidak satu sekolah lagi. Belajar hidup dengan teman-teman baru dan kesibukan baru. Kami mulai berjarak, jarak sekolah, jarak waktu, jarak kisah. Sesekali kami masih sering bermain bersama, kala itu kami sering janjian ke warnet bareng berhubung belum ada modem dirumah. Yang masih saya ingat betul, saya sering meracuninya bermain friendster dan mirc yang masih hot di jaman itu.
Sekarang kami uda sama-sama kuliah di semester akhir. Dengan minat kami masing-masing. Dia berhasil mewujudkan cita-citanya yang dari dulu ingin menjadi seorang guru. Tampaknya jurusan yang dia ambil bisa menghantarkannya pada profesi dambaannya, pendidikan sejarah. sementara impiannku menjadi seorang dokter terkendala biaya dan dihadang ketakutanku akan 'mayat'. Ujung-ujungnya aku terdampar di program studi yang sarat akan angka, tapi tak mengapa, aku cinta angka-angka kok, aku jatuh cinta dengan angka semenjak di bangkus SMP , walaupun tak jarang rumus-rumus itu bikin mual kalau overdosis hehehe.
Sama seperti saat SMA, sekarang pun kami terkadang masih sering menyempatkan waktu untuk bertemu. Dan sumpah ya, semakin aku kenal dia, semakin lama semakin aku tahu she is the best friend i ever have . Kesabaran dan kekalemannya patut diacungin 4 jempol deh. Dia rela nemenin aku belanja sana-sini dari ujung malioboro ke ujung yang lain tanpa sedikitpun mengeluh, atau bahkan kemanapun aku mau dia selalu bersedia mengantarkanku. Salut banget sama dia, dia selalu berusaha sebisa mungkin memendam segala bentuk keinginannya demi orang lain.
Di masa kuliahnya,Rina beda dengan kebanyakan mahasiswa lainnya. Bayangkan saja, di saat mahasiswi-mahasiswi lebih suka ngadem di pojok-pojok mall atau mikirin nasib dompet sambil mematut diri di depan kaca fitting room, dia lebih suka menghabiskan waktu luangnya untuk berpanas-panasan mengajar anak SD pramuka, bergumul dengan teman sepramukanya, menjelajahi dataran terjal untuk outbond, dan terakhir kali kudengar dia mempertaruhkan nyawa untuk menjadi relawan di daerah rawan bencana merapi. Pulang jam 3 pagi dini hari demi rapat pramuka pun pernah ia lakoni, padahal ya rumah Rina sama seperti rumahku 25 km dari kampus dan lewat sawah sawah sepi yang jadi sarang penjambret ulung. Tak jarang pula ia diomeli keluarganya gara-gara kesibukannya yang terlalu menyita waktu dan sedikit bahaya itu, tapi ia kekeuh tak mau tahu, prinsipnya yang penting dia bisa membantu sesama berguna bagi sesama.
Oia, satu hal yang bikin aku bangga dari dia, ketulusannya benar benar tulus, ga dibuat-buat. Ketika dia memintaku saran tentang bisnis apa yang mesti ia jalankan dengan modal dan waktu yang terbatas, aku memberinya saran jualan makanan di basecamp pramukanya. Dan jawaban yang dia berikan sungguh super, bikin trenyuh 'enggak ah mbak, nanti temen-temenku di pramuka jadi konsumtif, jadi jajan terus. Aku ga mau gara-gara aku mereka jadi boros.' Well, mana pernah aku kepikiran sampai sebegitu mulianya dia. Kalau aku beberin satu persatu betapa dia benar-benar inner beauty- owner , sepertinya sehari tidak cukup untuk menuliskannya. Banyak sekali. Kalau boleh kurekomendasikan pada semua guru PPKN di Indonesia, bakal aku bilang dia cocok jadi model mata pelajaran PPKN :)
Yang jelas sekarang sosoknya jauh lebih dewasa dan aktif. Jilbab polos, kemeja polos dan rok panjang cukup membuatnya terlihat sangat manis. Sama sekali ga neko-neko. Kalau punya uang berlebih, dia lebih rela menghabiskannya untuk membeli buku-buku sejarah daripada belanja baju atau accesoris. Lucu sekali kalau ingat dia waktu kecil, sangat suka dandan, beda sekali dengan sekarang. Otherwise, you have very awesome inner beauty , Sis !

Hmm... kemarin tanggal 23 Januari tepat dia merayakan ulang tahunnya yang ke 22. Tulisan ini terinspirasi lomba menulis yang aku baca di internet, lomba menulis tentang sahabat kecil. Kebetulan aku suka menulis. Menang tak menang tak apalah, yang penting tulisan ini bisa membuat saya bernostalgia ke masa lalu. Aih sudah tua ya kita rin, sudah bertahun-tahun kita lalui sebagai sahabat. Walaupun tak sepenuhnya kisah hidupku kau tau, tak sepenuhnya pula apa yang sedang kau alami aku tahu. Bahkan mungkin saat ini kita saling cenderung tak tahu apa dan siapa yang kita pikirkan. Tapi, hatiku selalu menganggapmu sahabat kecilku, bahkan saudara kecilku. Yang selalu aku sayang. Selamat ulang tahun,semoga cita-citamu mengajar benar-benar bisa tercapai tahun ini :)
Nb : sekarang saya lebih tinggi loh daripada Rina *njuk ngopo ? .. hahha